Minggu, 07 September 2014



https://aragonresearch.com/wp-content/uploads/2013/09/new-microsoft-logo-square-large.jpg
Microsoft Corporation merupakan sebuah perusahaan multinasional yang didirikan oleh Bill Gates dan Paul Allen. Sejak didirikan pada tanggal 4 April 1975 hingga sekarang Microsoft baru mengubah lambang perusahaan sebanyak lima kali. Tidak seperti empat logo sebelumnya yang hanya mengusung nama perusahaan, di logo baru ini juga disandingkan logo 'jendela kotak' yang lebih tegas. Di satu jendela itu terdapat empat warna berbeda, yakni merah, hijau, biru dan kuning.

Menurut Manager Brand Strategy Microsoft Jeferry Meisner, logo ini terinsipirasi dari beberapa produk terbaru yang akan secara masif diperkenalkan dalam waktu dekat. Karena setiap warna tersebut mewakili produk terbaru yang akan segera diluncurkan.

Berikut arti warna pada logo Microsoft :

Warna merah mewakili produk Office,
Warna biru untuk sistem operasi Windows 8
Warna hijau menggambarkan konsol game Xbox.
Sedangkan warna kuning masih misteri, mungkin saja ada sesuatu yang ditawarkan, belakangan Microsoft akan meluncurkan tablet Microsoft Surface.

Logo baru ini juga meliputi perubahan jenis huruf yang tertulis di kata Microsoft menggunakan font Segoe. Pada huruf 'f' dan 't' di akhiran kata Microsoft juga terhubung dengan satu garis. "Simbol ini penting dalam dunia gerak digital. Warna dalam kotak dimaksudkan untuk mengungkapkan beragam portofolio produk perusahaan," tandas Meisner.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhEtcWYdetfogK6WfNTrLL6bimo5rQi4zxcQ8yf5AB5HsFPPMSNCwL0x4qYbVCK_SV8belwGZ3RTWxmyiXK2y9Nb94iNl7nsAVMt3MjaZa_Q6cowUd1gRCLyCCVBSL1CI5u04KJPwhYMrMG/s9000/Logo+Sampoerna+Mild.jpg
A Mild sudah lama mengenalkan logonya. Rokok yang diperuntukkan untuk anak-anak muda ini memiliki logo yang simpel sebenarnya. Dengan huruf ‘A’ yang artistik kombinasi warna putih dan background merah. Tapi dibalik itu semua kita bisa melihat banyak hal dibalik logo A Mild.
A Mild menggambarkan kepercayaan diri dan selalu memberikan inisiatif. Makna ini sebenarnya tidak terlalu tampak pada logo A Mild, tapi beberapa advertising yang diluncurkan A Mild membentuk makna itu. Kreatif, itu kata yang bisa disematkan pada kemasan iklan A Mild. Sehingga masyarakat pun tidak melihatnya sebagai produk rokok yang buruk untuk kesehatan, tetapi A Mild adalah icon kepercayaan diri






https://sites.google.com/a/student.unsika.ac.id/ridha-site/_/rsrc/1387277931030/tugas-mandiri/10-macam-arti-logo-dalam-sistem-operasi/3.jpg?height=200&width=173
Ubuntu
Warna merah, jingga dan kuning yang membentuk lingkaran pada logo Ubuntu memang terlihat cukup sederhana namun unik. Padahal logo tersebut merupakan perpaduan tiga orang yang saling berpegangan tangan dan sedang membentuk lingkaran. Hal ini dimaksudkan bahwa Ubuntu menegaskan kebersamaan, solidaritas dan kebersamaan antar umat manusia. Sedangkan tiga warna tersebut mewakili lambang dari berbagai ras yang ada. Hal ini sesuai dengan arti dari Ubuntu yaitu kebersamaan, dimana diambil dari bahasa Afrika.












http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/3/39/INDOSIAR_Logo.png
Indosiar adalah salah satu stasiun televisi swasta nasional di Indonesia. Stasiun televisi ini beroperasi dari Daan Mogot, Jakarta Barat. Indosiar awalnya didirikan dan dikuasai oleh Grup Salim. Pada tahun 2004, Indosiar merupakan bagian dari PT. Indosiar Karya Media Tbk. (sebelumnya PT. Indovisual Citra Persada) yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (dahulu Bursa Efek Jakarta). Pada 13 Mei 2011, mayoritas saham PT. Indosiar Karya Media Tbk. dibeli oleh PT. Elang Mahkota Teknologi Tbk., pemilik SCTV (melalui SCM sebelum bergabung dengan IDKM) dan O Channel, menjadikan ketiga stasiun televisi berada dalam satu pengendalian.[1][2] Kini, stasiun televisi ini resmi dikuasai oleh SCM pasca bergabung dengan IDKM dan "bersaudara" dengan SCTV

Kamis, 26 Juni 2014

Sejuta Nasehat Minang

Payokumbuah jalannyo luruih,
Singgah sabanta di Piladang.
Kok gantieng jan sampai putuih.
Tinnggakan juo salai banang.

    Artinya :
 
Payakumbuh jalannya lurus, 
Singgah sebentar di Piladang.
Kalau genting jangan sampai putus,
Tinggalkan juga selembar benang.
 
 
 
Tafsir sampiran:
Payokumbuah jalannyo luruih, singgah sabanta di Piladang. Di Sumatera Barat sulit menemukan jalan yang lurus, karena daerahnya bergunung dan berlembah. Dataran pantai Barat adalah merupakan dataran sempit karena dari masa kemasa pantainya selalu berkurang dikikis ombak.Jadi adanya jalan lurus, kurang lebih sepanjang 2,5 Km, menuju Payakumbuh dari arah Bukittinggi, adalah merupakan satu keistimewaan yang menarik perhatian. Setelah sampai di Baso dari Bukittinggi, jalan mulai menurun, kemudian kita akan bertemu dengan hamparan sawah yang luas yang ditengahnya dibelah oleh jalan yang lurus tersebut.Kemudian setelah melewati jembatan Batang Agam, kita akan bertemu dengan desa Simpang, disitu ada jalan bersimpang kekiri kedesa Batu Hampar, kampungnya Bapak Dr. Moh. Hatta. Setelah itu kita akan sampai didesa Piladang sebelum sampai di Payakumbuh. Sampiran pantun ini mengatakan bahwa dalam perjalanan itu kita singgah sebentar di Piladang.
 
Tafsir isi pantun :
Kok gantieng jan sampai putuih,tinggakan juo salai banang. Pantun ini menasehatkan agar jangan sampai memutus silaturrahmi. Dan ini sangat sejalan dengan ajaran agama Islam. Kok  gantieng……., maksudnya kalau terjadi pertengkaran,   perselisihan, perbedaan pendapat, bahkan perkelahian. Jan sampai putuih ……, maksudnya jangan sampai sama sekali memutus hubungan silaturrahmi. Tinggakan juo salai banag………., artinya pertalian bathin antara keduanya tetap  hankan walau pun hanya sangat tipis sekali. Satu masa siapa tahu, kalau keadaan sudah reda,  sangkutan yang tipis tersebut akan membesar yang pada akhirnya seperti semula kembali.Petunjuk dari pantun ini perlu diingat terus dan direnungkan, karena sangat ampuh dalam  mengendalikan emosi sewaktu terjadi perbedaan pendapat. Apalagi kalau sesama muslim yang  adalah  bersaudara. Kalau dalam satu keluarga nasehat pantun ini dilaksanakan, maka tidak akan  terjadi perceraian, yang memutus hubungan secara total, dan akan menimbulkan bermacam persoalan tambahan.


                                   
 
Oi, Upiek rambahlah paku,
Nak tarang jalan kaparak.
Oi, Upiek ubahlah laku,
Nak sayang urang ka-awak.

Artinya: 

Hai, Upik rambahlah paku,
Supaya terang jalan kekebun.
Hai, Upiek ubahlah laku,
Supaya sayang orang pada kita.

Tafsir sampiran :
Upiek rambahlah paku, nak tarang jalan kaparak. Paku adalah tumbuhan pakis yang tumbuh liar  yang biasanya menjadi gulma yang harus dibersihkan. Namun ada pula jenis pakis yang enak dan  biasa dijadikan sayur. Dalam sampiran ini pakis yang tumbuh liar, yang mengotorkan jalan kekebun , disuruh si Upiek untuk membersihkannya. Namun ini tak ada kaitan sama sekali dengan  isi pantun.

Tafsir isi pantun :
Upiek ubahlah laku, nak sayang urang ka-awak. Pantun ini berisi nasehat yang ditujukan kepada si Upik yang dalam hal ini dapat berupa gadis kecil yang sedfang lincah, atau dapat pula  seorang gadis yang sudah remaja. Memang kadang-kadang ada anak gadis yang masih kecil suka  nakal, agak bandel, tidak mau patuh kepada orang tuanya, suka mengganggu teman sesama bermain  dan sebagainya. Sehingga banyak yang benci kepadanya, dia ditakuti dan disihkan dalam  pergaulan anak-anak. Atau ada pula kemungkinan seorang gadis yang sudah menginjak remaja, tapi kurang sopan, tidak  hormat pada orang tua, suka bergunjing dan menghasut, dan lebih jelek lagi agak suka pamer,  kurang punya rasa malu. Inipun satu sifat yang tidak disayangi oleh orang banyak termasuk  orang tuanya.
Pantun ini menasehatkan agar kedua tipe perempuan tersebut segera mengubah kelakuannya menjadi  lebih baik, sesuai dengan adat istiadat yang berlaku, sopan santun, berbudi halus, dan taat  melaksanakan kaidah agama dan sebagainya, agar semua orang, akan sayang kepadanya.

 
Cubadak tumbuah sabatang,
Tumbuah luruih dakek parigi,
Nan rancak diliek urang,
Budi haluih mamikek hati.

Artinya: 
Cempedak tumbuh sebatang,
Tumbuh lurus dekat perigi.
Yang rancak dilihat orang,
Budi halus memikat hati.

Tafsir sampiran :
Cubadak tumbuah sabatang, tumbuah luruih dakek parigi. Ada sebatang pohon cempedak (nangka),  yang tumbuh dekat parigi dan tumbuhnya lurus keatas tidak banyak bercabang-cabang, Yang  dimaksud dengan parigi adalah sebuah sumber air untuk kebutuhan sehari-hari, yang biasanya terletak tidak terlalu jauh dari rumah. Sumber air itu dapat berupa sumur, genangan air yang  menampung air yang keluar dari kaki bukit, atau dari mata air. Tidak termasuk tepian sungai  atau air pancuran bamboo disungai kecil.

Tafsir isi pantun :
Nan rancak dilihat urang, budi halus mamikek hati. Merupakan nasehat yang menyatakan bahwa  sifat yang disukai oleh orang banyak adalah budi halus, atau yang mempunyai budi pekerti yang  tinggi.
Pantun ini juga mengisyaratkan bahwa masyarakat Minang itu jauh lebih mengutamakan  budi pekerti dari yang lainnya. Seorang yang berbudi baik, jauh lebih disukai masyarakat dari  pada orang kaya, apalagi kalau orang yang baik itu juga kaya. Secara khusus nasehat ini  ditujukan kepada anak-anak yang mulai menanjak dewasa, terutama anak perempuan.Sopan santun, ramah tamah, manis budi bahasa, hormat pada orang tua, suka senyum, suka memberi  dan sebagainya adalah sifat-sifat yang “rancak” , apalagi kalau dilengkapi dengan taat  beragama. Sifat-sifat tersebut biasanya yang pertama kali dinilai, apabila ada yang akan  mencari  menantu, baru kemudian mengenai turunan, status dimasyarakat, dan kekayaan.
 

  
Ka hilie jalan ka Padang,
Ka mudiek jalan ka Ulakan.
Kok musuah indak dihadang,
Basuo pantang di-ilakkan.

Artinya :
Ke hilir jalan ke Padang,
Ke mudik jalan ke Ulakan.
Jika musuh tidak dihadang,
Bertemu pantang di-elakkan.

Tafsir sampiran :

Kehilir jalan ke Padang, kemudik jalan ke Ulakan. Letak kota Padang sudah sama diketahui,  sedangkan Ulakan adalah nama sebuah desa yang terletak dekat Pariaman arah kepedalaman. Kalau  melihat sampiran ini, berarti ada seseorang yang berada pada sebuah desa dipinggiran sungai,  yang mengalir kearah Padang dan dibagian hulunya terletak desa Ulakan.

Tafsir isi pantun :
Musuah indak dihadang, basuo pantang dielakkan. Merupakan nasehat dan juga merupakan sifat  kesatria dari lelaki Minang. Dimana dalam menjalani kehidupan didunia ini sekali-kali  janganlah mencari-cari musuh atau lawan, hendaklah selalu diusahakan mencari sahabat atau  kawan sebanyak mungkin. Berusahalah menghindari hal-hal yang akan menimbulkan permusuhan,  binalah dan  kembangkanlah persaudaraan. Akan tetapi kalau musuh itu datang, yang akan melawan  kita, yang akan membinasakan kita, maka jangan  dibiarkan, berpantang itu dielakkan.
Apalagi   kalau musuh itu telah mulai menggerogoti kita, merusak atau menganiaya kita, maka itu harus  dilawan. Jangan sampai berlaku  seolah-olah terlalu baik, sebab terlalu baik itu bisa berarti lemah atau takut.
Demi ketenangan, kerukunan dan sebagainya, secara pelan tapi pasti lawan selalu merusak kita sehingga hancur. Kalau jelas ada lawan harus dilawan, kalau ada aksi harus  ada reaksi, jangan dibiarkan dan jangan mau kalah.
Petunjuk yang terkandung dalam pantun Minang ini, perlu disosialisasikan sekarang ini,  terutama dalam program yang disebut “kerukunan   beragama”. Siapa yang tidak setuju dengan kerukunan beragama ?
Semua ummat Islam akan menyetujuinya sesuai dengan nasehat pantun diatas,  membina  kerukunan    ummat, agar memperbanyak teman, menghindari permusuhan dengan siapa  saja, termasuk dengan ummat dari agama lain. Hidup rukun antar ummat yang berbeda agama,  alangkah indahnya, seperti yang telah dipraktekkan oleh orang Minang dengan orang Batak dari  zaman dulu sampai sekarang.  Karena yang dimaksud dengan kerukunan  beragama itu adalah  membiarkan, menghormati ummat dari agama lain untuk melaksanakan ibadah menurut agamanya  masing-masing, jangan diganggu apalagi dihalangi.
Tapi kalau ikut-ikutan melaksanakan ibadah ritual agama lain, itu bukan lagi kerukunan  beragama, atau toleransi beragama tapi sudah menjual agama kita sendiri kepada orang lain.
Dan  itu adalah perbuatan dosa besar yang sama dengan syirik. Demikian pula apabila ada program  dari satu agama untuk mempengaruhi ummat agama lain agar mau pindah menganut agamanya, itu namanya bukan lagi toleransi beragama, akan tetapi sudah termasuk “agressi” terhadap satu  agama.
Program yang berusaha menarik ummat Islam agar berpindah agama pada agama lain, yang sekarang  sudah dicanangkan secara terbuka , bahkan ada target-target yang akan dicapai, jelas-jelas  sudah merupakan suatu aksi serangan atau agressi.
Membiarkan agama Islam dihancurkan adalah  suatu dosa besar bagi ummat Islam itu sendiri. Sesuai dengan isi pantun diatas, ketemu lawan  jangan dielakkan, maka suatu aksi harus dibalas dengan reaksi. Ummat Islam harus bereaksi,  melawan, bertahan, agar jangan sampai hancur. Jangankan hancur, berkurang sedikit saja kitatidak mau.
 



                                         
Dibao ribuik dibao angin,
Dibao pikek dibao langau.
Muluik jo hati kok balain,
Pantangan adaik Minangkabau.
 
Artinya : 
Dibawa ribut dibawa angin,
Dibawa pikat dibawa lalat.
Mulut dan hati kalau berlain,
Pantangan adat Minangkabau.   
 
Tafsir sampiran :
Dibao ribuik dibao angin, dibao pikek dibao langau. Ribut adalah angin yang agak kencang, langau sama dengan lalat dan pikek adalah sebangsa lalat yang agak lebih besar.
Biasanya yang terjadi dialam, yang suka dibawa lalat serfta angin itu adalah bibit penyakit,  apakah penyakit tanaman atau penyakit manusia.

Tafsir isi pantun :
Muluik jo hati kok balain, pantangan adaik Minagkabau. Satu pernyataan bahwa adat Minangkabau  itu memberi petunjuk perlunya keterbukaan, berterus terang, jangan sampai lain dimulut lain  dihati, jadi berkatalah dengan jujur. Akan tetapi nasehat dalam pantun ini kadang-kadang
bertentangan dengan sifat orang Minang yang ahli berpolitik, seperti yang telah kita bahas  pada pantun sebelum ini:

   =Dalam lahie ado babathin,dalam bathin bakalipik pulo=

Jadi ada hal-hal tertentu yang perlu disembunyikan , yang menjadi rahasia pribadi atau hanya  dapat dibicarakan dengan orang dekat saja. Demikian pula sebagai pengusaha, orang Minang  memang suka menerapkan open management, akan tetapi tidak open seluruhnya dalam arti telanjang  bulat, tetap saja ada hal-hal tertentu yang harus disembunyikan. Untuk mencapai sesuatu maksud  tertentu dalam hatinya, kadang-kadang perlu berkata lain. Malah kalau yang dikatakan sama  dengan yang dihati, bisa saja maksud hati itu tidak akan tercapai. Pada intinya nasehat yang ada pada pantun ini adalah jangan sampai berkata bohong, kalau akan menimbulkan kerugian pada  orang lain, atau kalau akan menimbulkan keadaan yang tidak baik.
 



Babelok pantau baranang
Bajipang batang Mangkudu.
Elok-elok dirantau urang,
Jan pulang mambao malu.

Artinya :
Berbelok pantau berenang,
Bercabang batang Mengkudu.
Baik-baik dirantau orang,
Jangan pulang membawa malu.


Tafsir sampiran :
Babelok pantau baranang, bajipang batang mangkudu. Pantau adalah ikan kecil-kecil sebesar ikan teri, namun hidup diair tawar. Jalannya dalam air tidak lurus saja kedepan, akan tetapi berbelok-belok. Bajipang artinya bercabang-cabang. 

Tafsir isi pantun :
Elok-elok dirantau urang, jan pulang mambao malu. Orang Minang memang suka merantau. Sebelum  pergi merantau itu biasanya diberi nasehat terlebih dahulu, yang antara lain seperti pada  pantun ini, semua yang merantau itu hendaklah baik-baik dirantau orang. Jangan sampai berbuat   yang memalukan hingga beritanya sampai juga kekampung halaman. Contoh perbuatan yang memalukan  adalah secara moral, berbuat jahat, menjadi penjahat, pencuri, pencopet, penipu dan sebagainya. Bisa juga memalukan secara material, misalnya menjadi miskin, peminta-minta,meminta uang pulang dan sebagainya.
Pada umumnya orang Minang itu memang sukses dalam merantau , akan tetapi adakalanya ada juga  yang gagal. Kalau karena gagal itu dia terpaksa pulang kembali dalam keadaan melarat, maka  itu akan sangat memalukan.
                                             



Baburu ka Padang data,
Dapeklah ruso balang kaki.
Baguru kapalang aja,
Ibaraik bungo kambang tak jadi.

Artinya :
Berburu ke Padang Datar
Dapatlah rusa belang kaki.
Berguru kepalang ajar,
Ibarat bunga kemang tak jadi.


Tafsir sampiran :

Baburu ka Padang Data, dapeklah ruso balang kaki. Sebagai daerah pegunungan maka sulit  menemukan lokasi yang datar di Minangkabau. Kalau ada tempat datar yang agak luas terdapat  dihutan, atau dimana saja biasa dinamakan Padang Datar. Dalam sampiran pantun ini Padang Datar itu terletak dihutan, dimana banyak terdapat binatang liar, sehingga cocok  untuk tempat  berburu. Dalam perburuan itu dikatakan mendapat rusa yang kakinya belang.

Tafsir isi pantun :

Berguru kepalang ajar, ibarat bungo kambang tak jadi. Kepalang ajar artinya tidak sampai  selesai, tak sampai tamat. Ibaratnya bersekolah tidak sampai dapat ijazah. Bunga kembang tak  jadi, berarti gugur sebelum berkembang, jadi bunga itu tidak sampai kembang, tak sampai  membentuk buah, tak sampai menghasilkan biji untuk melanjutkan turunannya. Jadi bunga itu tak  ada gunanya, tak ada manfaatnya, menghias tidak sampai, melanjutkan generasi juga tak mungkin.
Maka pantun ini menasehatkan kalau sekolah tidak sampai tamat, atau berguru tidak sampai  mengerti, maka tidak ada gunanya, dari itu lebih baik tidak , karena akan membuang energi saja. Sebaliknya kalau mau berguru, belajar menuntut satu kepandaian tertentu, hendaklah sampai   mengerti benar-benar, sehingga pengetahuan itu dapat dipergunakan. Demikian pula kalau  sekolah, hendaklah sampai tamat, sampai mendapat ijazah, jangan sampai terputus ditengah  jalan. Lebih jauh secara umum pantun ini memberi petunjuk bahwa apapun yang dikerjakan, yang  direncanakan, hendaklah dilakukan sampai tuntas, jangan kepalang tanggung, dan mengerjakannya  pun hendaklah serius, tekun , jangan hanya separoh hati, atau asal-asalan saja.
Untuk itu  apapun yang akan dikerjakan harus didasari perhitungan yang matang lebih dulu, seberapa besar  peluangnya akan berhasil. Jangan mengerjakan sesuatu yang tidak mungkin.

Kok bakato elok marandah,
Lamak dilua kuaik didalam.
Muluik manih kucindan murah,
Muko janiah indak pandandam.

Artinya: 

Kalau berkata lebih baik merendah,
Enak diluar kuat didalam.
Mulut manis senyuman murah,
Muka jernih tidak pendendam.


Tafsir sampiran :
Kok bakato elok marandah, lamak dilua kuaik didalam. Berbeda dengan pantun lainnya, pantun ini  telah mengandung nasehat mulai dari  sampirannya. Nasehat dari sampiran ini adalah agar jangan  berkata sombong, kalau berkata itu lebih baik merendah saja. Enak kedengarannya, lemah lembut, akan tetapi apa yang dikatakan itu bukanlah omong kosong, mempunyai dasar yang kuat  didalam. Maksudnya apa yang dikatakan itu adalah bersungguh-sungguh, tak bias ditawar-tawar, tegas.
 
Tafsir isi pantun :
Muluik manih kucindan murah, muko janiah indak pandandam. Ini juga suatu nasehat kepada  seorang yang sedang berbincang dengan orang lain atau bertemu muka dengan orang lain. Berkatalah dengan mulut yang manis, artinya kata-kata yang enak didengar, tidak kata-kata  kasar. Suaranya pun sedang-sedang saja, tidak terlalu keras dan tidak pula kurang kedengaran.
Kucindan murah, maksudnya murah tersenyum yang diikuti dengan mimik muka yang menarik  (kucindan). Sama sekali jangan memperlihatkan raut muka yang cemberut, seperti pendendam.
 

 
  

Ka Koto mambao suluah,
Dari munggu tampak barasok.
Ibo di badan ka takicuah,
Ilimu ijan dibao lalok.

Artinya :
Ke Kota membawa suluh,
Dari munggu tampak berasap.
Kalau tak ingin badan terkecoh,
Ilmu jangan dibawa tidur.


Tafsir sampiran : 

Ka Koto mambao suluah,dari munggu tampak barasok. Suluah adalah alat penerangan kalau berjalan  diwaktu malam hari. Ada yang dibuat dari daun kelapa kering yang disusun rapat, dipegang pangkalnya lalu ujungnya dibakar. Api yang menyala akan menerangi jalan yang akan ditempuh.
Suluh yang lebih moderen dari itu, terbuat dari terbuat dari bambu kecil, yang diisi minyak  tanah, dan diberi sumbu dengan sabut kelapa atau dengan kain bekas. Kedua jenis suluh tersebut akan mengeluarkan asap pada waktu digunakan. Dalam sampiran pantun ini dikatakan bahwa asap
itu kelihatan dari “munggu”, yaitu suatu tempat yang agak ketinggian.
                                     
Tafsir isi pantun :

Ibo dibadan ka takicuah, ilimu ijan dibao lalok. Maksudnya kalau sayang dengan diri sendiri,  jangan sampai ditipu oleh orang lain, maka ilmu itu dipergunakan, jangan dibawa tidur. Orang  yang biasa kena tipu adalah orang yang ilmunya agak kurang, atau orang yang kurang berhati-hati. Atau ada pula orang yan g mempunyai ilmu, akan tetapi jarang dia menggunakan  ilmunya itu. Sebenarnya yang dimaksud dengan “menggunakan ilmu” disini adalah satu nasehat  agar selalu berhati-hati, pikirkan dulu dari segala segi, baik buruknya sebelum mengambil satu
keputusan.
Kalau ada seseorang menawarkan sesuatu, mengajak mengerjakan sesuatu, meminta sesuatu atau  mengajak bekerja sama dan sebagainya, jangan terlalu mudah memutuskan untuk menerima atau menolaknya. Pikirkan dulu masak-masak sebelum memutuskan, sehingga kita tidak sampai tertipu.
Yang dimaksud dengan ilmu dalam pantun ini sebenarnya adalah otak, akal atau pikiran. Otak itu  harus dipakai, jangan dibawa tidur.
                                   


 
Surau di Ulak Aie Bangih,
Tunggak nan dari Muko-Muko.
Pikie dahulu baru bangih,
Tantukan lapa maananyo.

Artinya: 

Surau di Ulak Air Bangih,
Tonggaknya dari Muko-Muko.
Pikirkan dahulu baru marah,
Tentukan ejaan dan artinya.


Tafsir sampiran :

Surau di Ulak Aie Bangih, tunggak nan dari Muko-Muko. Ada sebuah surau yang terletak didesa  Ulak, Air Bangis. Tonggak dari surau tersebut  diambil dari daerah Muko-Muko, yaitu satu kota kecil diperbatasan Propinsi Bengkulu dengan Provinsi Sumatera Barat. Kedua kota ini, Muko-Muko dan Air Bangis  adalah kota pantai yang terletak pantai Barat Sumatera.

Tafsir isi pantun :
Pikie dahulu baru bangih, tantukan lapa maananyo. Pikir adalah dengan memakai otak,  menggunakan akal, bangih adalah marah atau berang. Sementara lapa adalah lafas dari bahasa Arab yang artinya eja, dan maana juga berasal dari bahasa Arab ma’na atau arti. Ini adalah satu nasehat agar berusaha mengendalikan emosi, jangan cepat marah. Kalau ada perbuatan  seseorang yang tidak menyenangkan, yang menyakitkan hati atau  merugikan kita, jangan langsung marah, pikirkan dulu masak-masak, sebab musabab terjadinya hal itu. Tentukan lafas dan maknanya, artinya pikirkan secara masak dengan kepada dingin, mengapa hal  itu terjadi, apakah itu merupakan suatu aksi, atau reaksi terhadap perbuatan kita sendiri atau keadaan tertentu. Dengan berpikir demikian mudah-mudahan emosi sudah mulai tenang, sehingga  masalah tersebut tidak perlu diselesaikan dengan marah-marah apalagi berkelahi.
 




Tagaliciek batang tabu,
Tagulimang baro dadak.
Taguliciek tampek lalu,
Dialieh pulo tampek tagak.

Artinya : 

Tergelincir batang tebu,
Tergelimang bara dedak
Tergelincir tempat lalu,
Dipindah pula tempat tegak.

Tafsir sampiran :

Tagaliciek batang tabu,tagulimang baro dadak. Batang tebu itu memang agak licin, apalagi kalau  basah. Batang tebu yang sedang dipegang oleh seseorang, karena licin, lalu tergelincir dan  jatuh keatas bara dedak (dedak atau sekam yang telah terbakar menjadi abu). Maka tebu tadi menjadi hitam kotor karena tergelimang abu dedak itu.

Tafsir isi pantun :

Taguliciek tampek lalu, dialieh pulo tampek tagak. Secara harfiah ini berarti, apabila tempat  kita lewat, jalannya licin, sehingga kita tergelincir, maka jangan lewat juga dijalan itu, cari jalan lain yang lebih baik. Ini merupakan nasehat kepada siapapun  juga bahwa jangan mudah berputus asa, tidak satu jalan ke Roma. Berbagai cara dapat dilakukan untuk mencapai  tujuan hidup, apabila yang satu gagal, coba lagi jalan lain, demikian selanjutnya. Harus  tabah, tekun, rajin dan yakin sehingga pada akhirnya berhasil. Dunia tidak seluas daun kelor kata orang, jadi harus selalu optimis.
Nasehat ini dapat ditujukan kepada banyak jenis persoalan yang dihadapi manusia dalam menempuh  kehidupan didunia ini. Misalnya dalam bercinta, kalau ternyata gagal mendapatkan pasangan yang diidamkan, jangan putus asa, cari yang lain sebagai gantinya. Kalau gagal dalam satu bidang  usaha, cari usaha lain dengan perhitungan yang lebih baik, dan banyak lagi contoh lainnya.
Kalau satu taktik yang sudah disusun rapi ternyata gagal juga, jangan putus asa, cari lagi  taktik dan strategi yang lain. Yang penting setiap usaha harus diusahakan dengan sungguh-sungguh, kalau tidak berhasil juga apaboleh buat, cari yang lain. Atau dengan  perkataan lain pantun ini tidaklah menasehatkan agar terlalu mudah “loncat pagar”, dengan  mudah sekali ganti usaha, belum tentu yang satu gagal, sudah ganti dengan yang lain. Mungkin  saja kegagalan, bukan karena usaha itu tak punya prospek, tapi karena pengelolaan yang salah.
Dalam hal ini apapun yang akan diusahakan akan gagal.
 

 
 

Marunduak lalu ka pakan,
Manyiruduak sambie balari.
Tatumbuak biduak dikelokkan,
Tatumbuak kato dipikiri.

Artinya :
Merunduk lalu ke pasar,
Menyelinap sambil berlari.
Tertumbuk biduk dikelokkan,
Tertumbuk kata dipikiri.

Tafsir sampiran :
Marunduak lalu ka pakan,manyiruduak sambie balari. Sampiran ini hanya sekadar untuk  mendapatkan persamaan bunyi, karena hampir tak mungkin terjadi, apa yang dikatakan disini.
Marunduak itu identik dengan manyiruduak, orang akan berjalan dengan merunduk apabila harus melewati sebangsa terowongan yang rendah (lebih rendah dari orang yang sedang berjalan).
Sedangkan kalau mau kepasar, biasanya tidak pernah meliwati terowongan. Demikian pula dengan  merunduk sambil berlari itu sulit untuk dilakukan.

Tafsir isi pantun :
Tatumbuak biduak dikelokkan, tatumbuak kato dipikiri. Kalau berlayar menggunakan biduk (sampan  atau perahu), lalau pada suatu tempat pelayaran itu tak bisa diteruskan karena ada yang  menghalangi, maka jangan berhenti disitu, belokkan biduk itu kearah yang lain yang tidak ada
halangannya. Ini juga merupakan satu nasehat yang pengertiannya hampir sama dengan pantun yang  disebut terdahulu. Tatumbuak kata dipikiri, maksudnya kalau dalam memecahkan satu masalah, ditemukan jalan buntu,  hilang akal untuk mencari jalan keluarnya, maka janganlah berhenti disitu, terus dipikirkan dengan berbagai cara dan kemungkinan, sehingga pada akhirnya ditemukan juga pemecahannya.
                                    
 
 

Kacang paringek dalam parak
Dikarek pandan jo durinyo.
Awa diingek akie indak
Alamaik badan ka binaso.

Artinya :

Kacang peringat dalam parak (kebun)
Dipotong pandan dengan durinya.
Awal diingat akhir tidak,
Alamat badan akan binasa.

Tafsir sampiran :

Kacang paringek dalam parak,dikarek pandan jo durinyo. Kacang paringek tumbuh dikebun dengan  dibantu tiang panjat, sebab tumbuhnya biasa memanjat seperti kacang panjang. Lalu untuk memotong daun pandan dipergunakan duri dari daun pandan itu sendiri.

Tafsir isi pantun :
Awal diingek akhir tidak, alamat badan akan binaso. Satu nasehat yang menyarankan agar dalam  melaksanakan satu pekerjaan hendaklah dipikirkan akibat jangka panjangnya. Jangan hanya  dipikirkan kenikmatan yang akan diperoleh pada awalnya saja, tetapi pada akhirnya akan menimbulkan kesengsaraan. Peringatan ini berlaku untuk berbagai   kegiatan, mulai dari perbuatan jangka pendek, jangka panjang, bahkan dapat menyangkut kehidupan dunia akhirat.Umpamanya kegiatan mencuri atau memperkosa akan dirasakan nikmat pada awalnya, akan tetapi
akhirnya bisa masuk penjara. Kegiatan membabat hutan tampa kendali, akibatnya anak cucu kita  nanti bisa menderita karenanya. Atau kegiatan untuk mendapatkan kenikmatan dunia dengan  menghalalkan segala cara, akhirnya diakhirat nanti akan masuk neraka.   
Jadi kalau akan merencanakan dan melaksanakan sesuatu, jangan diingat awalnya saja,  jangan hanya mengutamakan kenikmatan awal yang akan diperoleh, akan tetapi hendaklah juga diingat akibat akhirnya, baik untuk kehidupan kita sendiri, kehidupan anak cucu kita kelak,  bahkan akibatnya terhadap kehidupan dialam akhirat. Malah akibat jangka panjang itu yang harus  diutamakan, disbanding dengan kenikmatan awal, seperti dinasehatkan oleh pantun lainnya:

Barakik-rakik kahulu,
Baranang-ranang katapian.
Basakik-sakik dahulu,
Basanang-sanang kamudian.

Jadi biarlah bersakit-sakit atau menderita pada awalnya, asalkan pada akhirnya  bersenang-senang atau berbahagia.
               

 
Sirieh naiek, junjuangan naiek,
Pandan dirimbo maladuangkan.
Sangsaro baiek, binaso baiek,
Asa basamo manangguangkan.

Artinya :
Sirih naik, junjungan naik,
Pandan dirimba menanggungkan.
Sengsara baik binasa baik,
Asal bersama menanggungkan.

Tafsir sampiran :

Sirieh naik junjungan naiek, pandan dirimbo manangguangkan. Sirih adalah sebangsa tanaman  memanjat, yang dipanen daunnya untuk makan sirih. Untuk tumbuh dia memerlukan junjungan atau tiang panjat, yang biasanya terdiri dari pohon kayu yang juga hidup. Dalam pertumbuhannya sirih itu selalu naik memanjat, sementara junjungannya pun bertambah naik juga, sebeb keduanya  sama-sama hidup. Pandan dirimbo maladuangkan, mengatakan bahwa tanaman pandan yang tumbuh dihutan, apabila sudah besar, daunnya panjang dan maladuang (melengkung).
 
Tafsir isi pantun :
Sangsaro baiek binaso baiek, asa basamo manangguangkan. Secara harfiah ini berarti bahwa  sengsara itu baik (dalam arti tidak apa-apa), binasa pun baik. Yang penting adalah asal dirasakan bersama, dipikul bersama dan dicarikan pemecahannya secara bersama. Pantun ini menasehatkan bagaimana pentingnya membina kebersamaan atau persatuan. Kalau kebersamaan itu ada maka segala yang berat sekalipun akan terasa ringan. Tidak ada masalah yang tak dapat  diselesaikan kalau dihadapi bersama, secara kekeluargaaan, saling tolong menolong.
Hal ini didasarkan kepada kenyataan bahwa status setiap anggota  masyarakat itu beragam. Ada yang miskin ada yang kaya, ada yang pintar ada pula yang bodoh. Kalau umpamanya ada salah seorang anggota  masyarakat mendapat musibah, maka kesusahan itu juga dirasakan oleh anggota masyarakat lainnya, karena solidaritas yang tinggi, maka pemecahan masalah dilakukan bersama dengan tolong menolong, maka  bagaimanapun beratnya masalah itu akan terasa ringan.                                                
 



Ijuak ka samo dihampakan,
Babanda ka Limau Puruik.
Isuak ka samo dirasokan,
Pituah niniek indak baturuik.

Artinya :

Ijuk akan sama dihamparkan,
Berselokan ke Limau Purut.
Nanti akan sama dirasakan,
Nasehat orang tua tak diikuti
                              
Tafsir sampiran :
Ijuak kasamo dihampakan,babanda ka Limau Puruik. Ijuak yang dipanen dari pohon enau, sebelum  dipakai untuk tali, sapu, dan sebagainya, terlebih dahulu dijemur supaya kering. Dijemur pada terik matahari dengan dihamparkan, biasanya dihalaman rumah. Yang dimaksud dengan “banda”
disini adalah selokan atau saluran air, tidak sama dengan Bandar yang berarti kota pelabuhan.
Babanda ka Limau Puruik, maksudnya saluran air yang ada didaerah ini berasal dari desa Limau  Purut.

Tafsir isi pantun :
Isuak ka samo dirasokan,petuah nenek tak diturut. Berupa nasehat kepada siapa saja agar selalu  mengikuti nasehat atau petuah dari orang-orang tua, Yang dimaksud dengan petuah disini adalah  nasehat yang  disampaikan secara langsung, kepada seseorang yang akan pergi  merantau, yang akan pergi mangaji (sekolah), yang akan melaksanakan satu pekerjaan besar, atau anak muda yang telah mulai menanjak dewasa.
Atau dapat pula berupa nasehat-nasehat yang telah baku, yang terdapat didalam pepatah/petitih,  pantun, adat istiadat,  yang pada umumnya telah diketahui. Kalau ada diantaranya yang tidak mengindahkan  nasehat-nasehat tersebut, maka pada suatu waktu dia akan merasakan akibatnya yang tentunya kurang baik. Akan tetapi biasanya untuk memperbaikinya kembali sudah terlambat,  sehingga terpaksa menerima bagaimana adanya. Yang ada tinggal lagi penyesalan, apa hendak
dikata,

=sesal kemudian tak berguna, sesal dahulu pendapatan=.
 

 

Bapadati muatan sarek,
Bangkahulu sasudah Tapan.
Pacik pitaruah buhua arek,
Umanaik ijan dilupokan.

Artinya :

Berpedati, muatan sarat,
Bengkulu sesudah Tapan.
Pegang titipan erat- erat,
Amanat jangan dilupakan. 

Tafsir sampiran:
Bapadati muatan sarek, Bangkahulu sasudah Tapan. Padati itu adalah sebuah kendaraan pengangkut  barang yang banyak digunakan zaman dulu, seperti sebuah gerobak ukuran besar, yang ditarik dengan kerbau atau sapi. Disini dikatakan pedati bermuatan sarat, muatannya penuh tak bisa  ditambah lagi, menurut istilah moderennya dinamakan full capacity. Kalau kita datang dari arah Padang menelusuri pantai ke arah Selatan, akan dilalui cukup banyak kota-kota kecil dan Kota  Tapan memang terletak sebelum kota Bengkulu.

Tafsir isi pantun :
Pacik pitaruah buhua arek,umanaik ijan dilupokan. Pitaruah tidak sama dengan petuah, walaupun  kadang-kadang bisa juga sama artinya. Pitaruah itu lebih banyak diartikan sebagai titipan.
Kalau ada seseorang yang menitipkan sesuatu kepada kita, apakah untuk disimpan sementara, atau  untuk diberikan kepada orang lain, maka pitaruah itu harus dijaga baik-baik sesuai dengan  pesan yang diterima. Jangan sampai hilang , jangan sampai rusak dan sekali-kali jangan
dimanfaatkan sendiri, karena itu adalah milik orang lain. Ketentuan atau nasehat ini sangat  sama dengan syari’at agama Islam.Amanat jangan dilupakan, yang dimaksud dengan amanat disini lebih banyak berupa nasehat lisan,  disamping dapat juga berarti amanat benda titipan. Baik amanat berupa nasehat, maupun amanat  berupa benda, maka janganlah sampai dilupakan. Kalau nasehat lisan jadikanlah pedoman hidup
disunia ini, jangan dilupakan sesuai dengan kata pusaka:

Pada siang hari dijadikan tongkat,
malam hari dijadikan bantal.

Kalau amanat itu berupa benda, maka janganlah pula lupa  meneruskan benda itu kepada siapa diamanatkan, kalau disuruh simpan, maka jagalah dengan baik  sampai datang orang yang akan mengambilnya.
 
courtesy of : http://www.cimbuak.net

Bodoh itu Pintar

Ketika si bodoh berbicara banyak yang menganggap ucapannya itu sebagai hal yang tak pantas atau tidak patut untuk didengar. Maka dari ini saya menghimpun perkataan orang yang sering dianggap bodoh tetapi perkataan nya itu sangat berarti untuk memotivasi hidup kita yang diantaranya :

Kandang persamaan itu tidak menguntungkan, misal sama sama suka gratisan

Cinta mengajarkan kita untuk berbahagia untuk cinta, bukan bercinta untuk bahagia.

Ketampanan seorang Pria, akan bertambah ketika dirinya memiliki KEMAPANAN. *makanya berjuang*

Udah biasa, orang yang nyakitin itu adalah orang yang sering kita bangga-banggain. :)

Pengetahuan tidak dapat menggantikan persahabatan. Aku lebih suka jadi idiot daripada kehilanganmu

Seharusnya kau belajar berjalan dulu nak, baru lah kau bisa berlari.

Hanya itulah yang dapat saya post terlebih dahulu dan jangan bosan-bosan untuk mengunjungi blog saya