Payokumbuah jalannyo luruih,
Singgah sabanta di Piladang.
Kok gantieng jan sampai putuih.
Tinnggakan juo salai banang.
Artinya :
Payakumbuh jalannya lurus,
Singgah sebentar di Piladang.
Kalau genting jangan sampai putus,
Tinggalkan juga selembar benang.
Tafsir sampiran:
Payokumbuah
jalannyo luruih, singgah sabanta di Piladang. Di Sumatera Barat sulit
menemukan jalan yang lurus, karena daerahnya bergunung dan berlembah.
Dataran pantai
Barat adalah merupakan dataran sempit karena dari masa kemasa pantainya
selalu berkurang dikikis ombak.Jadi adanya jalan lurus, kurang lebih
sepanjang 2,5 Km, menuju Payakumbuh dari arah Bukittinggi, adalah
merupakan satu keistimewaan yang menarik perhatian. Setelah sampai di
Baso dari Bukittinggi, jalan mulai menurun, kemudian kita akan bertemu
dengan hamparan sawah yang luas yang ditengahnya dibelah oleh jalan yang
lurus tersebut.Kemudian setelah melewati jembatan Batang Agam, kita
akan bertemu dengan desa Simpang, disitu ada jalan bersimpang kekiri
kedesa Batu Hampar, kampungnya Bapak Dr. Moh. Hatta. Setelah itu kita
akan sampai didesa Piladang sebelum sampai di Payakumbuh. Sampiran
pantun ini mengatakan bahwa dalam perjalanan itu kita singgah sebentar
di Piladang.
Tafsir isi pantun :
Kok gantieng jan sampai putuih,tinggakan juo salai banang. Pantun ini
menasehatkan agar jangan sampai memutus silaturrahmi. Dan ini sangat
sejalan dengan ajaran agama Islam. Kok gantieng……., maksudnya kalau
terjadi pertengkaran, perselisihan, perbedaan pendapat, bahkan
perkelahian. Jan sampai putuih ……, maksudnya jangan sampai sama sekali
memutus hubungan silaturrahmi. Tinggakan juo salai banag………., artinya
pertalian bathin antara keduanya tetap hankan walau pun hanya sangat
tipis sekali. Satu masa siapa tahu, kalau keadaan sudah reda, sangkutan
yang tipis tersebut akan membesar yang pada akhirnya seperti semula
kembali.Petunjuk dari pantun ini perlu diingat terus dan direnungkan,
karena sangat ampuh dalam mengendalikan emosi sewaktu terjadi perbedaan
pendapat. Apalagi kalau sesama muslim yang adalah bersaudara. Kalau
dalam satu keluarga nasehat pantun ini dilaksanakan, maka tidak akan
terjadi perceraian, yang memutus hubungan secara total, dan akan menimbulkan bermacam persoalan tambahan.
Oi, Upiek rambahlah paku,
Nak tarang jalan kaparak.
Oi, Upiek ubahlah laku,
Nak sayang urang ka-awak.
Artinya:
Hai, Upik rambahlah paku,
Supaya terang jalan kekebun.
Hai, Upiek ubahlah laku,
Supaya sayang orang pada kita.
Tafsir sampiran :
Upiek rambahlah paku, nak tarang jalan kaparak. Paku adalah tumbuhan pakis yang tumbuh liar
yang biasanya menjadi gulma yang harus dibersihkan. Namun ada pula
jenis pakis yang enak dan biasa dijadikan sayur. Dalam sampiran ini
pakis yang tumbuh liar, yang mengotorkan jalan kekebun , disuruh si
Upiek untuk membersihkannya. Namun ini tak ada kaitan sama sekali
dengan isi pantun.
Tafsir isi pantun :
Upiek
ubahlah laku, nak sayang urang ka-awak. Pantun ini berisi nasehat yang
ditujukan kepada si Upik yang dalam hal ini dapat berupa gadis kecil
yang sedfang lincah, atau dapat pula seorang gadis yang sudah remaja.
Memang kadang-kadang ada anak gadis yang masih kecil suka nakal, agak
bandel, tidak mau patuh kepada orang tuanya, suka mengganggu teman
sesama bermain dan sebagainya. Sehingga banyak yang benci kepadanya, dia
ditakuti dan disihkan dalam pergaulan anak-anak. Atau ada pula
kemungkinan seorang gadis yang sudah menginjak remaja, tapi kurang
sopan, tidak hormat pada orang tua, suka bergunjing dan menghasut, dan
lebih jelek lagi agak suka pamer, kurang punya rasa malu. Inipun satu
sifat yang tidak disayangi oleh orang banyak termasuk orang tuanya.
Pantun ini menasehatkan agar kedua tipe perempuan tersebut segera mengubah kelakuannya menjadi lebih baik, sesuai dengan adat
istiadat yang berlaku, sopan santun, berbudi halus, dan taat
melaksanakan kaidah agama dan sebagainya, agar semua orang, akan sayang
kepadanya.
Cubadak tumbuah sabatang,
Tumbuah luruih dakek parigi,
Nan rancak diliek urang,
Budi haluih mamikek hati.
Artinya:
Cempedak tumbuh sebatang,
Tumbuh lurus dekat perigi.
Yang rancak dilihat orang,
Budi halus memikat hati.
Tafsir sampiran :
Cubadak
tumbuah sabatang, tumbuah luruih dakek parigi. Ada sebatang pohon
cempedak (nangka), yang tumbuh dekat parigi dan tumbuhnya lurus keatas
tidak banyak bercabang-cabang, Yang dimaksud dengan parigi adalah
sebuah sumber air
untuk kebutuhan sehari-hari, yang biasanya terletak tidak terlalu jauh
dari rumah. Sumber air itu dapat berupa sumur, genangan air yang
menampung air yang keluar dari kaki bukit, atau dari mata air. Tidak
termasuk tepian sungai atau air pancuran bamboo disungai kecil.
Tafsir isi pantun :
Nan
rancak dilihat urang, budi halus mamikek hati. Merupakan nasehat yang
menyatakan bahwa sifat yang disukai oleh orang banyak adalah budi
halus, atau yang mempunyai budi pekerti yang tinggi.
Pantun
ini juga mengisyaratkan bahwa masyarakat Minang itu jauh lebih
mengutamakan budi pekerti dari yang lainnya. Seorang yang berbudi baik,
jauh lebih disukai masyarakat dari pada orang kaya,
apalagi kalau orang yang baik itu juga kaya. Secara khusus nasehat ini
ditujukan kepada anak-anak yang mulai menanjak dewasa, terutama anak
perempuan.Sopan santun, ramah tamah, manis budi bahasa, hormat pada
orang tua, suka senyum, suka memberi dan sebagainya adalah sifat-sifat
yang “rancak” , apalagi kalau dilengkapi dengan taat beragama.
Sifat-sifat tersebut biasanya yang pertama kali dinilai, apabila ada
yang akan mencari menantu, baru kemudian mengenai turunan, status
dimasyarakat, dan kekayaan.
Ka hilie jalan ka Padang,
Ka mudiek jalan ka Ulakan.
Kok musuah indak dihadang,
Basuo pantang di-ilakkan.
Artinya :
Ke hilir jalan ke Padang,
Ke mudik jalan ke Ulakan.
Jika musuh tidak dihadang,
Bertemu pantang di-elakkan.
Tafsir sampiran :
Kehilir
jalan ke Padang, kemudik jalan ke Ulakan. Letak kota Padang sudah sama
diketahui, sedangkan Ulakan adalah nama sebuah desa yang terletak dekat
Pariaman arah kepedalaman. Kalau melihat sampiran ini, berarti ada
seseorang yang berada pada sebuah desa dipinggiran sungai, yang mengalir kearah Padang dan dibagian hulunya terletak desa Ulakan.
Tafsir isi pantun :
Musuah
indak dihadang, basuo pantang dielakkan. Merupakan nasehat dan juga
merupakan sifat kesatria dari lelaki Minang. Dimana dalam menjalani
kehidupan didunia ini sekali-kali janganlah mencari-cari musuh atau
lawan, hendaklah selalu diusahakan mencari sahabat atau kawan sebanyak
mungkin. Berusahalah menghindari hal-hal yang akan menimbulkan
permusuhan, binalah dan kembangkanlah persaudaraan. Akan tetapi kalau
musuh itu datang, yang akan melawan kita, yang akan membinasakan kita,
maka jangan dibiarkan, berpantang itu dielakkan.
Apalagi
kalau musuh itu telah mulai menggerogoti kita, merusak atau menganiaya
kita, maka itu harus dilawan. Jangan sampai berlaku seolah-olah
terlalu baik, sebab terlalu baik itu bisa berarti lemah atau takut.
Demi
ketenangan, kerukunan dan sebagainya, secara pelan tapi pasti lawan
selalu merusak kita sehingga hancur. Kalau jelas ada lawan harus
dilawan, kalau ada aksi harus ada reaksi, jangan dibiarkan dan jangan
mau kalah.
Petunjuk yang terkandung dalam pantun Minang ini, perlu
disosialisasikan sekarang ini, terutama dalam program yang disebut
“kerukunan beragama”. Siapa yang tidak setuju dengan kerukunan
beragama ?
Semua ummat Islam akan menyetujuinya
sesuai dengan nasehat pantun diatas, membina kerukunan ummat, agar
memperbanyak teman, menghindari permusuhan dengan siapa saja, termasuk
dengan ummat dari agama lain. Hidup rukun antar ummat yang berbeda
agama, alangkah indahnya, seperti yang telah dipraktekkan oleh orang
Minang dengan orang Batak dari zaman dulu sampai sekarang. Karena yang
dimaksud dengan kerukunan beragama itu adalah membiarkan, menghormati
ummat dari agama lain untuk melaksanakan ibadah menurut agamanya
masing-masing, jangan diganggu apalagi dihalangi.
Tapi
kalau ikut-ikutan melaksanakan ibadah ritual agama lain, itu bukan lagi
kerukunan beragama, atau toleransi beragama tapi sudah menjual agama
kita sendiri kepada orang lain.
Dan itu adalah perbuatan dosa
besar yang sama dengan syirik. Demikian pula apabila ada program dari
satu agama untuk mempengaruhi ummat agama lain agar mau pindah menganut
agamanya, itu namanya bukan lagi toleransi beragama, akan tetapi sudah
termasuk “agressi” terhadap satu agama.
Program
yang berusaha menarik ummat Islam agar berpindah agama pada agama lain,
yang sekarang sudah dicanangkan secara terbuka , bahkan ada
target-target yang akan dicapai, jelas-jelas sudah merupakan suatu aksi
serangan atau agressi.
Membiarkan agama Islam
dihancurkan adalah suatu dosa besar bagi ummat Islam itu sendiri.
Sesuai dengan isi pantun diatas, ketemu lawan jangan dielakkan, maka
suatu aksi harus dibalas dengan reaksi. Ummat Islam harus bereaksi,
melawan, bertahan, agar jangan sampai hancur. Jangankan hancur,
berkurang sedikit saja kitatidak mau.
Dibao ribuik dibao angin,
Dibao pikek dibao langau.
Muluik jo hati kok balain,
Pantangan adaik Minangkabau.
Artinya :
Dibawa ribut dibawa angin,
Dibawa pikat dibawa lalat.
Mulut dan hati kalau berlain,
Pantangan adat Minangkabau.
Tafsir sampiran :
Dibao
ribuik dibao angin, dibao pikek dibao langau. Ribut adalah angin yang
agak kencang, langau sama dengan lalat dan pikek adalah sebangsa lalat
yang agak lebih besar.
Biasanya yang terjadi dialam, yang suka dibawa
lalat serfta angin itu adalah bibit penyakit, apakah penyakit tanaman
atau penyakit manusia.
Tafsir isi pantun :
Muluik jo
hati kok balain, pantangan adaik Minagkabau. Satu pernyataan bahwa adat
Minangkabau itu memberi petunjuk perlunya keterbukaan, berterus terang,
jangan sampai lain dimulut lain dihati, jadi berkatalah dengan jujur.
Akan tetapi nasehat dalam pantun ini kadang-kadang
bertentangan dengan sifat orang Minang yang ahli berpolitik, seperti yang telah kita bahas pada pantun sebelum ini:
=Dalam lahie ado babathin,dalam bathin bakalipik pulo=
Jadi
ada hal-hal tertentu yang perlu disembunyikan , yang menjadi rahasia
pribadi atau hanya dapat dibicarakan dengan orang dekat saja. Demikian
pula sebagai pengusaha, orang Minang memang suka menerapkan open
management, akan tetapi tidak open seluruhnya dalam arti telanjang
bulat, tetap saja ada hal-hal tertentu yang harus disembunyikan. Untuk
mencapai sesuatu maksud tertentu dalam hatinya, kadang-kadang perlu
berkata lain. Malah kalau yang dikatakan sama dengan yang dihati, bisa
saja maksud hati itu tidak akan tercapai. Pada intinya nasehat yang ada
pada pantun ini adalah jangan sampai berkata bohong, kalau akan
menimbulkan kerugian pada orang lain, atau kalau akan menimbulkan
keadaan yang tidak baik.
Babelok pantau baranang
Bajipang batang Mangkudu.
Elok-elok dirantau urang,
Jan pulang mambao malu.
Artinya :
Berbelok pantau berenang,
Bercabang batang Mengkudu.
Baik-baik dirantau orang,
Jangan pulang membawa malu.
Tafsir sampiran :
Babelok
pantau baranang, bajipang batang mangkudu. Pantau adalah ikan
kecil-kecil sebesar ikan teri, namun hidup diair tawar. Jalannya dalam
air tidak lurus saja kedepan, akan tetapi berbelok-belok. Bajipang
artinya bercabang-cabang.
Tafsir isi pantun :
Elok-elok
dirantau urang, jan pulang mambao malu. Orang Minang memang suka
merantau. Sebelum pergi merantau itu biasanya diberi nasehat terlebih
dahulu, yang antara
lain seperti pada pantun ini, semua yang merantau itu hendaklah
baik-baik dirantau orang. Jangan sampai berbuat yang memalukan hingga
beritanya sampai juga kekampung halaman. Contoh perbuatan yang
memalukan adalah secara moral, berbuat jahat, menjadi penjahat,
pencuri, pencopet, penipu dan sebagainya. Bisa juga memalukan secara
material, misalnya menjadi miskin, peminta-minta,meminta uang pulang dan
sebagainya.
Pada umumnya orang Minang itu memang sukses dalam
merantau , akan tetapi adakalanya ada juga yang gagal. Kalau karena
gagal itu dia terpaksa pulang kembali dalam keadaan melarat, maka itu
akan sangat memalukan.
Baburu ka Padang data,
Dapeklah ruso balang kaki.
Baguru kapalang aja,
Ibaraik bungo kambang tak jadi.
Artinya :
Berburu ke Padang Datar
Dapatlah rusa belang kaki.
Berguru kepalang ajar,
Ibarat bunga kemang tak jadi.
Tafsir sampiran :
Baburu
ka Padang Data, dapeklah ruso balang kaki. Sebagai daerah pegunungan
maka sulit menemukan lokasi yang datar di Minangkabau. Kalau ada tempat
datar yang agak luas terdapat dihutan, atau dimana saja biasa
dinamakan Padang Datar. Dalam sampiran pantun ini Padang Datar itu
terletak dihutan, dimana banyak terdapat binatang liar, sehingga cocok
untuk tempat berburu. Dalam perburuan itu dikatakan mendapat rusa yang
kakinya belang.
Tafsir isi pantun :
Berguru
kepalang ajar, ibarat bungo kambang tak jadi. Kepalang ajar artinya
tidak sampai selesai, tak sampai tamat. Ibaratnya bersekolah tidak
sampai dapat ijazah. Bunga kembang tak jadi, berarti gugur sebelum
berkembang, jadi bunga itu tidak sampai kembang, tak sampai membentuk
buah, tak sampai menghasilkan biji untuk melanjutkan turunannya. Jadi
bunga itu tak ada gunanya, tak ada manfaatnya, menghias tidak sampai,
melanjutkan generasi juga tak mungkin.
Maka pantun ini menasehatkan
kalau sekolah tidak sampai tamat, atau berguru tidak sampai mengerti,
maka tidak ada gunanya, dari itu lebih baik tidak , karena akan membuang
energi saja. Sebaliknya kalau mau berguru, belajar menuntut satu
kepandaian tertentu, hendaklah sampai mengerti benar-benar, sehingga
pengetahuan itu dapat dipergunakan. Demikian pula kalau sekolah,
hendaklah sampai tamat, sampai mendapat ijazah, jangan sampai terputus
ditengah jalan. Lebih jauh secara umum pantun ini memberi petunjuk
bahwa apapun yang dikerjakan, yang direncanakan, hendaklah dilakukan
sampai tuntas, jangan kepalang tanggung, dan mengerjakannya pun
hendaklah serius, tekun , jangan hanya separoh hati, atau asal-asalan
saja.
Untuk itu apapun yang akan dikerjakan
harus didasari perhitungan yang matang lebih dulu, seberapa besar
peluangnya akan berhasil. Jangan mengerjakan sesuatu yang tidak mungkin.
Kok bakato elok marandah,
Lamak dilua kuaik didalam.
Muluik manih kucindan murah,
Muko janiah indak pandandam.
Artinya:
Kalau berkata lebih baik merendah,
Enak diluar kuat didalam.
Mulut manis senyuman murah,
Muka jernih tidak pendendam.
Tafsir sampiran :
Kok
bakato elok marandah, lamak dilua kuaik didalam. Berbeda dengan pantun
lainnya, pantun ini telah mengandung nasehat mulai dari sampirannya.
Nasehat dari sampiran ini adalah agar jangan berkata sombong, kalau
berkata itu lebih baik merendah saja. Enak kedengarannya, lemah lembut,
akan tetapi apa yang dikatakan itu bukanlah omong kosong, mempunyai
dasar yang kuat didalam. Maksudnya apa yang dikatakan itu adalah
bersungguh-sungguh, tak bias ditawar-tawar, tegas.
Tafsir isi pantun :
Muluik
manih kucindan murah, muko janiah indak pandandam. Ini juga suatu
nasehat kepada seorang yang sedang berbincang dengan orang lain atau
bertemu muka dengan orang lain. Berkatalah dengan mulut yang manis,
artinya kata-kata yang enak didengar, tidak kata-kata kasar. Suaranya
pun sedang-sedang saja, tidak terlalu keras dan tidak pula kurang
kedengaran.
Kucindan murah, maksudnya murah tersenyum yang diikuti
dengan mimik muka yang menarik (kucindan). Sama sekali jangan
memperlihatkan raut muka yang cemberut, seperti pendendam.
Ka Koto mambao suluah,
Dari munggu tampak barasok.
Ibo di badan ka takicuah,
Ilimu ijan dibao lalok.
Artinya :
Ke Kota membawa suluh,
Dari munggu tampak berasap.
Kalau tak ingin badan terkecoh,
Ilmu jangan dibawa tidur.
Tafsir sampiran :
Ka
Koto mambao suluah,dari munggu tampak barasok. Suluah adalah alat
penerangan kalau berjalan diwaktu malam hari. Ada yang dibuat dari daun
kelapa kering yang disusun rapat, dipegang pangkalnya lalu ujungnya
dibakar. Api yang menyala akan menerangi jalan yang akan ditempuh.
Suluh
yang lebih moderen dari itu, terbuat dari terbuat dari bambu kecil,
yang diisi minyak tanah, dan diberi sumbu dengan sabut kelapa atau
dengan kain bekas. Kedua jenis suluh tersebut akan mengeluarkan asap
pada waktu digunakan. Dalam sampiran pantun ini dikatakan bahwa asap
itu kelihatan dari “munggu”, yaitu suatu tempat yang agak ketinggian.
Tafsir isi pantun :
Ibo
dibadan ka takicuah, ilimu ijan dibao lalok. Maksudnya kalau sayang
dengan diri sendiri, jangan sampai ditipu oleh orang lain, maka ilmu
itu dipergunakan, jangan dibawa tidur. Orang yang biasa kena tipu
adalah orang yang ilmunya agak kurang, atau orang yang kurang
berhati-hati. Atau ada pula orang yan g mempunyai ilmu, akan tetapi
jarang dia menggunakan ilmunya itu. Sebenarnya yang dimaksud dengan
“menggunakan ilmu” disini adalah satu nasehat agar selalu berhati-hati,
pikirkan dulu dari segala segi, baik buruknya sebelum mengambil satu
keputusan.
Kalau
ada seseorang menawarkan sesuatu, mengajak mengerjakan sesuatu, meminta
sesuatu atau mengajak bekerja sama dan sebagainya, jangan terlalu
mudah memutuskan untuk menerima atau menolaknya. Pikirkan dulu
masak-masak sebelum memutuskan, sehingga kita tidak sampai tertipu.
Yang
dimaksud dengan ilmu dalam pantun ini sebenarnya adalah otak, akal atau
pikiran. Otak itu harus dipakai, jangan dibawa tidur.
Surau di Ulak Aie Bangih,
Tunggak nan dari Muko-Muko.
Pikie dahulu baru bangih,
Tantukan lapa maananyo.
Artinya:
Surau di Ulak Air Bangih,
Tonggaknya dari Muko-Muko.
Pikirkan dahulu baru marah,
Tentukan ejaan dan artinya.
Tafsir sampiran :
Surau
di Ulak Aie Bangih, tunggak nan dari Muko-Muko. Ada sebuah surau yang
terletak didesa Ulak, Air Bangis. Tonggak dari surau tersebut diambil
dari daerah Muko-Muko, yaitu satu kota kecil diperbatasan Propinsi
Bengkulu dengan Provinsi Sumatera Barat. Kedua kota ini, Muko-Muko dan
Air Bangis adalah kota pantai yang terletak pantai Barat Sumatera.
Tafsir isi pantun :
Pikie
dahulu baru bangih, tantukan lapa maananyo. Pikir adalah dengan memakai
otak, menggunakan akal, bangih adalah marah atau berang. Sementara
lapa adalah lafas dari bahasa Arab yang artinya eja, dan maana juga
berasal dari bahasa Arab ma’na atau arti. Ini adalah satu nasehat agar
berusaha mengendalikan emosi, jangan cepat marah. Kalau ada perbuatan
seseorang yang tidak menyenangkan, yang menyakitkan hati atau merugikan
kita, jangan langsung marah, pikirkan dulu masak-masak, sebab musabab
terjadinya hal itu. Tentukan lafas dan maknanya, artinya pikirkan secara
masak dengan kepada dingin, mengapa hal itu terjadi, apakah itu
merupakan suatu aksi, atau reaksi terhadap perbuatan kita sendiri atau
keadaan tertentu. Dengan berpikir demikian mudah-mudahan emosi sudah
mulai tenang, sehingga masalah tersebut tidak perlu diselesaikan dengan
marah-marah apalagi berkelahi.
Tagaliciek batang tabu,
Tagulimang baro dadak.
Taguliciek tampek lalu,
Dialieh pulo tampek tagak.
Artinya :
Tergelincir batang tebu,
Tergelimang bara dedak
Tergelincir tempat lalu,
Dipindah pula tempat tegak.
Tafsir sampiran :
Tagaliciek
batang tabu,tagulimang baro dadak. Batang tebu itu memang agak licin,
apalagi kalau basah. Batang tebu yang sedang dipegang oleh seseorang,
karena licin, lalu tergelincir dan jatuh keatas bara dedak (dedak atau
sekam yang telah terbakar menjadi abu). Maka tebu tadi menjadi hitam
kotor karena tergelimang abu dedak itu.
Tafsir isi pantun :
Taguliciek
tampek lalu, dialieh pulo tampek tagak. Secara harfiah ini berarti,
apabila tempat kita lewat, jalannya licin, sehingga kita tergelincir,
maka jangan lewat juga dijalan itu, cari jalan lain yang lebih baik. Ini
merupakan nasehat kepada siapapun juga bahwa jangan mudah berputus
asa, tidak satu jalan ke Roma. Berbagai cara dapat dilakukan untuk
mencapai tujuan hidup, apabila yang satu gagal, coba lagi jalan lain,
demikian selanjutnya. Harus tabah, tekun, rajin dan yakin sehingga pada
akhirnya berhasil. Dunia tidak seluas daun kelor kata orang, jadi harus
selalu optimis.
Nasehat ini dapat ditujukan kepada banyak jenis
persoalan yang dihadapi manusia dalam menempuh kehidupan didunia ini.
Misalnya dalam bercinta, kalau ternyata gagal mendapatkan pasangan yang
diidamkan, jangan putus asa, cari yang lain sebagai gantinya. Kalau
gagal dalam satu bidang usaha, cari usaha lain dengan perhitungan yang
lebih baik, dan banyak lagi contoh lainnya.
Kalau satu taktik yang
sudah disusun rapi ternyata gagal juga, jangan putus asa, cari lagi
taktik dan strategi yang lain. Yang penting setiap usaha harus
diusahakan dengan sungguh-sungguh, kalau tidak berhasil juga apaboleh
buat, cari yang lain. Atau dengan perkataan lain pantun ini tidaklah
menasehatkan agar terlalu mudah “loncat pagar”, dengan mudah sekali
ganti usaha, belum tentu yang satu gagal, sudah ganti dengan yang lain.
Mungkin saja kegagalan, bukan karena usaha itu tak punya prospek, tapi
karena pengelolaan yang salah.
Dalam hal ini apapun yang akan diusahakan akan gagal.
Marunduak lalu ka pakan,
Manyiruduak sambie balari.
Tatumbuak biduak dikelokkan,
Tatumbuak kato dipikiri.
Artinya :
Merunduk lalu ke pasar,
Menyelinap sambil berlari.
Tertumbuk biduk dikelokkan,
Tertumbuk kata dipikiri.
Tafsir sampiran :
Marunduak
lalu ka pakan,manyiruduak sambie balari. Sampiran ini hanya sekadar
untuk mendapatkan persamaan bunyi, karena hampir tak mungkin terjadi,
apa yang dikatakan disini.
Marunduak itu identik dengan manyiruduak,
orang akan berjalan dengan merunduk apabila harus melewati sebangsa
terowongan yang rendah (lebih rendah dari orang yang sedang berjalan).
Sedangkan
kalau mau kepasar, biasanya tidak pernah meliwati terowongan. Demikian
pula dengan merunduk sambil berlari itu sulit untuk dilakukan.
Tafsir isi pantun :
Tatumbuak
biduak dikelokkan, tatumbuak kato dipikiri. Kalau berlayar menggunakan
biduk (sampan atau perahu), lalau pada suatu tempat pelayaran itu tak
bisa diteruskan karena ada yang menghalangi, maka jangan berhenti
disitu, belokkan biduk itu kearah yang lain yang tidak ada
halangannya.
Ini juga merupakan satu nasehat yang pengertiannya hampir sama dengan
pantun yang disebut terdahulu. Tatumbuak kata dipikiri, maksudnya kalau
dalam memecahkan satu masalah, ditemukan jalan buntu, hilang akal
untuk mencari jalan keluarnya, maka janganlah berhenti disitu, terus
dipikirkan dengan berbagai cara dan kemungkinan, sehingga pada akhirnya
ditemukan juga pemecahannya.
Kacang paringek dalam parak
Dikarek pandan jo durinyo.
Awa diingek akie indak
Alamaik badan ka binaso.
Artinya :
Kacang peringat dalam parak (kebun)
Dipotong pandan dengan durinya.
Awal diingat akhir tidak,
Alamat badan akan binasa.
Tafsir sampiran :
Kacang
paringek dalam parak,dikarek pandan jo durinyo. Kacang paringek tumbuh
dikebun dengan dibantu tiang panjat, sebab tumbuhnya biasa memanjat
seperti kacang panjang. Lalu untuk memotong daun pandan dipergunakan
duri dari daun pandan itu sendiri.
Tafsir isi pantun :
Awal
diingek akhir tidak, alamat badan akan binaso. Satu nasehat yang
menyarankan agar dalam melaksanakan satu pekerjaan hendaklah dipikirkan
akibat jangka panjangnya. Jangan hanya dipikirkan kenikmatan yang akan
diperoleh pada awalnya saja, tetapi pada akhirnya akan menimbulkan
kesengsaraan. Peringatan ini berlaku untuk berbagai kegiatan, mulai
dari perbuatan jangka pendek, jangka panjang, bahkan dapat menyangkut
kehidupan dunia akhirat.Umpamanya kegiatan mencuri atau memperkosa akan
dirasakan nikmat pada awalnya, akan tetapi
akhirnya bisa masuk
penjara. Kegiatan membabat hutan tampa kendali, akibatnya anak cucu
kita nanti bisa menderita karenanya. Atau kegiatan untuk mendapatkan
kenikmatan dunia dengan menghalalkan segala cara, akhirnya diakhirat
nanti akan masuk neraka.
Jadi kalau akan merencanakan dan
melaksanakan sesuatu, jangan diingat awalnya saja, jangan hanya
mengutamakan kenikmatan awal yang akan diperoleh, akan tetapi hendaklah
juga diingat akibat akhirnya, baik untuk kehidupan kita sendiri,
kehidupan anak cucu kita kelak, bahkan akibatnya terhadap kehidupan
dialam akhirat. Malah akibat jangka panjang itu yang harus diutamakan,
disbanding dengan kenikmatan awal, seperti dinasehatkan oleh pantun
lainnya:
Barakik-rakik kahulu,
Baranang-ranang katapian.
Basakik-sakik dahulu,
Basanang-sanang kamudian.
Jadi biarlah bersakit-sakit atau menderita pada awalnya, asalkan pada akhirnya bersenang-senang atau berbahagia.
Sirieh naiek, junjuangan naiek,
Pandan dirimbo maladuangkan.
Sangsaro baiek, binaso baiek,
Asa basamo manangguangkan.
Artinya :
Sirih naik, junjungan naik,
Pandan dirimba menanggungkan.
Sengsara baik binasa baik,
Asal bersama menanggungkan.
Tafsir sampiran :
Sirieh
naik junjungan naiek, pandan dirimbo manangguangkan. Sirih adalah
sebangsa tanaman memanjat, yang dipanen daunnya untuk makan sirih.
Untuk tumbuh dia memerlukan junjungan atau tiang panjat, yang biasanya
terdiri dari pohon kayu yang juga hidup. Dalam pertumbuhannya sirih itu
selalu naik memanjat, sementara junjungannya pun bertambah naik juga,
sebeb keduanya sama-sama hidup. Pandan dirimbo maladuangkan, mengatakan
bahwa tanaman pandan yang tumbuh dihutan, apabila sudah besar, daunnya
panjang dan maladuang (melengkung).
Tafsir isi pantun :
Sangsaro
baiek binaso baiek, asa basamo manangguangkan. Secara harfiah ini
berarti bahwa sengsara itu baik (dalam arti tidak apa-apa), binasa pun
baik. Yang penting adalah asal dirasakan bersama, dipikul bersama dan
dicarikan pemecahannya secara bersama. Pantun ini menasehatkan bagaimana
pentingnya membina kebersamaan atau persatuan. Kalau kebersamaan itu
ada maka segala yang berat sekalipun akan terasa ringan. Tidak ada
masalah yang tak dapat diselesaikan kalau dihadapi bersama, secara
kekeluargaaan, saling tolong menolong.
Hal ini
didasarkan kepada kenyataan bahwa status setiap anggota masyarakat itu
beragam. Ada yang miskin ada yang kaya, ada yang pintar ada pula yang
bodoh. Kalau umpamanya ada salah seorang anggota masyarakat mendapat
musibah, maka kesusahan itu juga dirasakan oleh anggota masyarakat
lainnya, karena solidaritas yang tinggi, maka pemecahan masalah
dilakukan bersama dengan tolong menolong, maka bagaimanapun beratnya
masalah itu akan terasa
ringan.
Ijuak ka samo dihampakan,
Babanda ka Limau Puruik.
Isuak ka samo dirasokan,
Pituah niniek indak baturuik.
Artinya :
Ijuk akan sama dihamparkan,
Berselokan ke Limau Purut.
Nanti akan sama dirasakan,
Nasehat orang tua tak diikuti
Tafsir sampiran :
Ijuak
kasamo dihampakan,babanda ka Limau Puruik. Ijuak yang dipanen dari
pohon enau, sebelum dipakai untuk tali, sapu, dan sebagainya, terlebih
dahulu dijemur supaya kering. Dijemur pada terik matahari dengan
dihamparkan, biasanya dihalaman rumah. Yang dimaksud dengan “banda”
disini adalah selokan atau saluran air, tidak sama dengan Bandar yang berarti kota pelabuhan.
Babanda ka Limau Puruik, maksudnya saluran air yang ada didaerah ini berasal dari desa Limau Purut.
Tafsir isi pantun :
Isuak
ka samo dirasokan,petuah nenek tak diturut. Berupa nasehat kepada siapa
saja agar selalu mengikuti nasehat atau petuah dari orang-orang tua,
Yang dimaksud dengan petuah disini adalah nasehat yang disampaikan
secara langsung, kepada seseorang yang akan pergi merantau, yang akan
pergi mangaji (sekolah), yang akan melaksanakan satu pekerjaan besar,
atau anak muda yang telah mulai menanjak dewasa.
Atau dapat pula
berupa nasehat-nasehat yang telah baku, yang terdapat didalam
pepatah/petitih, pantun, adat istiadat, yang pada umumnya telah
diketahui. Kalau ada diantaranya yang tidak mengindahkan
nasehat-nasehat tersebut, maka pada suatu waktu dia akan merasakan
akibatnya yang tentunya kurang baik. Akan tetapi biasanya untuk
memperbaikinya kembali sudah terlambat, sehingga terpaksa menerima
bagaimana adanya. Yang ada tinggal lagi penyesalan, apa hendak
dikata,
=sesal kemudian tak berguna, sesal dahulu pendapatan=.
Bapadati muatan sarek,
Bangkahulu sasudah Tapan.
Pacik pitaruah buhua arek,
Umanaik ijan dilupokan.
Artinya :
Berpedati, muatan sarat,
Bengkulu sesudah Tapan.
Pegang titipan erat- erat,
Amanat jangan dilupakan.
Tafsir sampiran:
Bapadati
muatan sarek, Bangkahulu sasudah Tapan. Padati itu adalah sebuah
kendaraan pengangkut barang yang banyak digunakan zaman dulu, seperti
sebuah gerobak ukuran besar, yang ditarik dengan kerbau atau sapi.
Disini dikatakan pedati bermuatan sarat, muatannya penuh tak bisa
ditambah lagi, menurut istilah moderennya dinamakan full capacity. Kalau
kita datang dari arah Padang menelusuri pantai ke arah Selatan, akan
dilalui cukup banyak kota-kota kecil dan Kota Tapan memang terletak
sebelum kota Bengkulu.
Tafsir isi pantun :
Pacik
pitaruah buhua arek,umanaik ijan dilupokan. Pitaruah tidak sama dengan
petuah, walaupun kadang-kadang bisa juga sama artinya. Pitaruah itu
lebih banyak diartikan sebagai titipan.
Kalau ada seseorang yang
menitipkan sesuatu kepada kita, apakah untuk disimpan sementara, atau
untuk diberikan kepada orang lain, maka pitaruah itu harus dijaga
baik-baik sesuai dengan pesan yang diterima. Jangan sampai hilang ,
jangan sampai rusak dan sekali-kali jangan
dimanfaatkan sendiri,
karena itu adalah milik orang lain. Ketentuan atau nasehat ini sangat
sama dengan syari’at agama Islam.Amanat jangan dilupakan, yang dimaksud
dengan amanat disini lebih banyak berupa nasehat lisan, disamping dapat
juga berarti amanat benda titipan. Baik amanat berupa nasehat, maupun
amanat berupa benda, maka janganlah sampai dilupakan. Kalau nasehat
lisan jadikanlah pedoman hidup
disunia ini, jangan dilupakan sesuai dengan kata pusaka:
Pada siang hari dijadikan tongkat,
malam hari dijadikan bantal.
Kalau amanat itu berupa benda, maka janganlah pula lupa meneruskan
benda itu kepada siapa diamanatkan, kalau disuruh simpan, maka jagalah
dengan baik sampai datang orang yang akan mengambilnya.
courtesy of : http://www.cimbuak.net